4/14/14

Kau Menyebutnya Jarak

Aku benci ketidakpastian ini.


Menerka-nerka rasa apa yang kau sembunyikan dibalik ruang yang berbeda dan menimbang-nimbang seberapa besar peluang untuk kita bisa bersama. Lalu kukandaskan semua pertanyaan bodoh tersebut kedalam jurang pikiran yang paling dalam. Kusimpan rapat, hingga tak terlihat.

Sesengguhnya, aku belum tahu benar apa nama rasa ini. Rasa menggebu-gebu saat melihatmu antusias mengajakku berbicara meski hanya lewat pesan singkat, rasa yang membuatku tak berhenti tersenyum saat melihat wajahmu menyiratkan rindu dalam panggilan video yang kita lakukan, rasa gelisah saat aku sadar kita memang seharusnya berpisah.



Dan sebenarnya aku tahu benar, ini — cinta.


Apa yang membuatku mencintai seorang lelaki yang bahkan aku tak tahu bagaimana aroma tubuhnya, kasar kulitnya, dan lembut rambutnya? Membuatku jatuh terjerembap kedalam dasar pikiranku yang penuh pertanyaan rumit, hanya dengan mendengarkannya bercerita tentang masa kecil kita berdua. Aku merindu, katanya.

Kita bisa bersama jika kita ada di ruang yang sama, jelasmu. Kau terus menyalahkan ruang dan waktu, penjarak kita berdua. Aku tak mengerti mengapa jarak menjadi masalah yang sangat besar bagi kita, pemilik hati yang tak bertuan. Apakah dengan adanya jarak, akan menjarakkan perasaan kita juga?

Ribuan kata sayang yang kau tuturkan kepadaku, tak akan membuat jarak diantara kita semakin menyempit. Ratusan janji yang kau tawarkan pun tak akan bisa membuat ruangku berpindah. Dan berkali-kali kau berucap kau cinta tapi tak bisa, tak akan membuat aku berhenti berharap.


Bukan jarak yang kuderita, tapi kejelasan ini yang kuminta.


Bagaimana bisa aku berkata cinta kepada orang yang bukan kekasihku? Bagaimana bisa aku terus bertarung pada rasa cemburu yang entah apa hak ku? Bagaimana bisa aku terus berkeluh kesah dan berbagi hidup kepada orang, yang lagi-lagi, hanya sebatas teman jarak jauhku?

Bagaimana bisa...
seorang aku mencintai kamu yang tak tertuju pada kepastian?

Dan bagaimana bisa, seorang aku menentang takdir tak bisa bersamanya kita..?


Aku nyata, kamu semu. Aku ada, kamu tiada. Takdir tak pernah mengizinkan kita bertemu, namun jika Tuhan berkehendak. Izinkan aku mengungkap rasa yang kau gantung pada jarak ini..

Untuk kamu,
yang tak akan pernah membaca ini