1/24/14

Kepercayaan Banding Ketakutan

Aku mencintaimu.

Sudah berapa kali kalimat itu terucap dari bibir ini? Aku bahkan sudah lupa berapa kali kalimat itu menjadi pengakhir hari kita pada setiap malam, pun pada setiap waktu yang diucapkan secara cuma-cuma. Keputus-asaan yang kurasakan selalu kutegarkan dengan kalimat itu. Kalimat yang kuucapkan penuh makna dan bukan sekedar kata ini mampu menjadi alasan terkuatku untuk tetap bertahan.


Aku tak memintamu untuk mempercayai kalimat yang kerap kuucap. Yang kuminta hanyalah sebuah pengembalian kepercayaan untukku padamu. Kepercayaan yang telah kau hancurkan dengan bahagiamu bersamanya. Kepercayaan yang dulu sempat kupertahankan, justru malah kau permainkan. Kepercayaan yang pernah menjanjikan kita sebuah kewajiban untuk saling menjaga, namun dengan mudahnya kau ingkari dengan alasan sampah, tak berguna.

Sayang, cinta bukan sekedar perasaan tetapi juga kepercayaan. Namun yang kupunya hanyalah rasa ketakutan untuk menyimpan perasaan. Kepercayaan mana yang bisa kau kembalikan setelah kau rusak dan injak-injak dengan liarmu? Bagian cinta mana yang dapat memberi kembali kepercayaan yang telah usang digerogoti ratapan hati? Adalah bagian cintaku padamu.

Sebab itu, aku selalu dihantui rasa jeri untuk mempercayai. Rasa berbalut gertakan gigi dan isakan hati setiap mengetahui hal yang tak dapat kupungkiri. Rasa yang selalu berkuasa atas segala asa dan merusak sukma. Rasa pemicu beranak sungainya air mataku dan bermuara pada lautan kesedihan.

Sayang, betapa buruknya pagi yang kunikmati bersama matahari yang bersembunyi dibalik teritori. Betapa elusifnya siang hari yang kulampaui bersama mentari yang tak berani memerangi cuaca hari ini. Betapa nistanya senja yang kujumpa bersama hampanya sang baskara. Betapa muramnya malam yang kuhabiskan bersama awan hitam dengan suasana kelam. Hari-hari yang kulaksanakan dengan ketakutan yang tak beralasan.

Bisakah kau bantu aku menjelaskan rasa takut ini?

Rasa ini sudah lama meradang dalam hati ini. Menjadi karat yang menyekat kuat sehingga tak ada keberanian untuk memaparkan sebuah rasa ketakutan. Ah, tidak, aku tidak sedang memendam kebencian, yang kurasa hanyalah rasa takut kehilangan.

Setiap aku kehilangan, aku selalu menghukum diriku karena tak mampu untuk mempertahankan. Menyalahkan alam karena tak ingin saling berkonspirasi. Menukas takdir yang tak sejalan dengan kemauan. Dan menuding Tuhan karena merasa tak diadili. Kemudian berakhir pada penyesalan. Benar-benar sebuah skema kehidupan yang sangat membosankan.

Untung saja Tuhan Maha Pendengar, jika tidak, mungkin Tuhan sudah jemu dengan semua curahan hatiku yang selalu berisikan tentang kamu, sayang.